Wednesday, 21 September 2016

Mengapa Panutan Remaja Putri Hanya Kartini?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Secarik Lini tentang Kartini

“Alangkah besarnya bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik,” demikian Kartini pernah berujar. RA Kartini, seorang putri bupati, di Jepara kala itu. Ia tokoh perempuan yang begitu melegenda bagi bangsa Indonesia. Kecerdasan, intelektualitas, kiprah, hingga perjuangannya yang berani beda di masanya telah terpatri dengan kuat, khususnya bagi kaum perempuan negeri ini.

Kartini adalah putri Raden Mas Sosroningrat istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa. Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, pada mulanya adalah seorang Wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluk Awur, Jepara.

Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristrikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi bupati pada usia 25 tahun. Kakak Kartini, RM Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Perjuangan Kartini dinilai membuka kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk sekolah dan meraih cita-cita. Tak heran, sampai berbeda abad, sosok Kartini masih menjadi simbol perjuangan perempuan modern, yang dikenal dengan sebutan emansipasi.

Namun, dengan segala detil profil Kartini, nampaknya masih banyak yang alpa. Bahwa bagaimana pun juga Kartini adalah seorang muslimah. Dobrakannya yang begitu menggelora memperjuangkan kesetaraan perempuan dari ketertindasan seolah menutup jati dirinya sebagai bagian umat Islam, dimana Islam-lah yang selayaknya menjadi pedoman perubahan.

Panutan dari Kartini Masih Sekedar Emansipasi

Ini yang barangkali minus dari perjuangan Kartini. Akibatnya, ia sendiri sempat tidak tahu bahwa Ngasirah sebenarnya adalah ibu kandungnya. Karena sejak lahir, Kartini hidup secara resmi bersama garwa padmi (istri utama) ayahnya. Ini karena setelah ayah Kartini menjadi Bupati Jepara, Ngasirah berubah status menjadi garwa ampil (selir) karena ia bukan dari kalangan bangsawan, melainkan keluarga kyai, yang saat itu dianggap rakyat biasa. Padahal Ngasirah adalah istri pertama Sang Bupati. Singkatnya, Ngasirah berperan sebagai kepala rumah tangga sekaligus pengasuh bagi anak-anak di rumah keluarga Kartini. Beruntungnya, dengan status garwa ampil tersebut, Ngasirah justru yang berperan dalam mengasuh dan mendidik kehidupan keseharian Kartini, termasuk saudara-saudaranya.

Berdasarkan hal ini, panutan yang bisa dikorek dari Kartini tak semata emansipasi ataupun modernisasi perempuan. Lebih dari itu, kaitan dengan statusnya sebagai seorang muslimah adalah keimanan dan ketakwaannya. Atau dengan kata lain, keterikatannya terhadap hukum-hukum Sang Pencipta. Termasuk kaitan dengan status Ngasirah sebagai ibu kandung Kartini, yang dalam kondisi seperti ini Islam justru sangat menghargai posisinya sebagai ibu. Karena hanya para ibu yang hebat saja yang juga mampu melahirkan dan mendidik anak-anaknya menjadi sosok-sosok yang hebat. Kartini, dan RM Sosro Kartono, kakak kandungnya, adalah bukti nyata hasil didikan Ngasirah, meski yang ‘harus’ mereka akui sebagai ibu adalah garwa padmi ayahnya.

Di usianya yang tak panjang, barangkali tak banyak juga yang bisa diceritakan tentang perjuangan Kartini sebagai seorang muslimah. Tapi tak perlu khawatir, karena sejatinya Kartini hanya sebagian kecil dari para muslimah yang dimiliki Islam. Di bawah naungan Khilafah Islamiyah, tersimpan segudang narasi tentang para muslimah teladan. Mereka muslimah-muslimah tangguh yang hidup dan matinya hanya dipersembahkan untuk kemuliaan Islam.

Kisah para shahabiyah produk binaan Rasulullaah saw, merupakan mutiara-mutiara umat yang melahirkan generasi unggulan. Sebutlah salah satu dari mereka adalah Al-Khansa ra.

Al-Khansa, Ibunda Para Syuhada

Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulaimiyah atau yang dikenal dengan Al-Khansa (dari bahasa Arab yang berarti 'kijang') adalah seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal sebagai penyair, syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang tercinta yang telah tiada. Terutama kepada kedua orang saudara lelakinya, yaitu Muawiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khansa maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.

Al-Khansa masuk Islam di saat mendatangi Nabi Muhammad saw bersama dengan Bani Sulaiman. Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.”

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak laki-laki : Yazid, Mu'awiyah, 'Amr, dan 'Amrah, semuanya memeluk Islam. Selanjutnya, ia dikenal sebagai ibu para syuhada karena telah berhasil mendidik keempat putranya menjadi syuhada di medan Perang Qadisiyah.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin Khattab ra, Al-Khansa turut berangkat bersama keempat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut. Sehari sebelum perang, Al-Khansa menyampaikan beberapa wasiat kepada putera-puteranya:

”Hai Putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana. Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.

Keesokkan harinya, mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di antara mereka yang semangatnya mulai surut, maka saudara-saudaranya langsung mengingatkannya dengan nasihat ibunda mereka yang telah tua renta, dengan begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka tetap berjuang dengan penuh semangat, hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada.

Ketika Sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama, ia menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran. “Alhamdulillah yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya,” harap Al-Khansa.

Satu hal yang membuatnya mampu berkata demikian, yaitu keimanannya. Ia begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugerah menjadi penghuni surga, karena Rasulullaah saw pernah bersabda: ”Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas ra dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969).

Demikianlah keimanan yang ditanamkan oleh Rasulullaah saw dalam hati orang-orang mukmin, sehingga mengajarkan mereka dari alam jahiliyah menuju alam dengan nilai-nilai luhur, akhlak mulia, kepribadian sempurna, dan kerinduan kepada keridhoan Allah Swt. Lihatlah, betapa Al-Khansa tidak hanya merelakan dua putra, melainkan empat putranya sekaligus untuk syahid di jalan Allah. Masya Allah.

Al-Khansa telah ditempa luar biasa oleh Islam. Ia menjadi teladan ideal bagi setiap ibu yang sabar, gigih dalam berjuang, dan tegar. Al-Khansa wafat pada permulaan pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan ra, pada tahun ke-24 Hijriyah. Semoga Allah meridhoinya, aamiin (Siroh Shahabiyah Jilid 2).

Jadi, Mengapa Panutan Remaja Putri Hanya Kartini?

Di Indonesia, Barat –tepatnya Amerika Serikat- terus berada di balik layar hingga Indonesia berhasil mengusir Belanda dari Irian Barat. Tak pelak, jatuhlah Indonesia di bawah pengaruh AS dan menjadi salah satu pengikut AS sejak masa Soekarno. Barat pun berupaya sekuat tenaga merekayasa berbagai program agar penguasaan terhadap Indonesia terjadi secara total. Tidak hanya program-program yang berkaitan dengan ekonomi dan politik, tapi juga yang berkaitan dengan masalah perempuan.

Sekalipun peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup perempuan menjadi salah satu misi pemerintah, namun realitasnya amat jauh dari harapan itu. Fokus AS terhadap isu perempuan adalah untuk menjauhkan perempuan dari nilai-nilai Islam. Penjajahan perempuan –dewasa dan remaja- dikuatkan melalui isu gender. Sementara, tujuan hakiki penerapan ide kesetaraan gender itu sendiri adalah menghancurkan keluarga Muslim.

Kapitalisme memang selalu melakukan simplifikasi terhadap masalah. Asumsi atas semua persoalan perempuan berawal dari diskriminasi atas mereka. Atas nama menyelamatkan perempuan, dunia internasional memaksa Indonesia untuk melaksanakan sederet aturan gender. Dan pemerintah, tak ada pilihan lain kecuali meratifikasi dan menerapkan dengan patuh semua konvensi internasional, tanpa menimbang lagi baik-buruknya terhadap kehidupan perempuan pada sudut pandang aturan Allah Swt.

Faktanya, betapa kerasnya kehidupan. Para perempuan, terpaksa berperan ganda, membanting tulang hanya untuk menyambung kehidupan, terkuras habis tenaga di luar rumah, hingga tak cukup waktu untuk bersama ananda, terpaksa TV dan media-lah yang menemani mereka, alih-alih mendapat kebaikan, justru mereka semakin terancam.

Berharap pada pendidikan di sekolah agar berakhlak mulia pun tak kan bisa, karena sistem pendidikan sekulerlah yang menjadi acuannya. Kurikulum sekuler justru menjerumuskan. Karena berwujud pada pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dijadikan norma yang bisa digunakan bila ada kebaikan dalam pandangan orang kebanyakan. Pendidikan agama tidak menambah iman dan menjadikan orang takut pada Tuhan. Sekulerisme telah membuat orang menghamba pada materi, mengejar kekayaan tanpa nilai ruhani, sekulerisme membuat hidup jadi kering kerontang, manusia robot yang kehilangan sisi manusiawi dan semata mengejar duniawi.

Terlebih lagi, jargon perempuan sebagai penyelamat ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anaknya, yang digembar-gemborkan Kapitalis ternyata hanya merusak keluarga muslim. Isu gender menjadikan perempuan mampu mendurhakai syariat.

Komodifikasi yang jahat, lambat laun menjadi ‘solusi’ dalam mengarungi kehidupan kapitalis yang keras. Demi pekerjaan dan uang, kadang kala perempuan bersedia melanggar beberapa hukum syariat yang berkaitan dengan interaksi antara laki-laki-perempuan, penjagaan kehormatan, pilihan pekerjaan, urusan pakaian – tabaruj dan sebagainya. Tak ketinggalan juga pelanggaran hukum tentang relasi suami-istri, juga pengasuhan-pengurusan anak. Akibatnya, angka perceraian kian meningkat dari waktu ke waktu. Kini, rata-rata dalam satu jam terjadi 40 perceraian di Indonesia.

Fatalnya, pihak yang mengajukan cerai mayoritas adalah pihak istri. Mohammad Ersyad, Kasi Pemberdayaan KUA Kanwil Kemenag Provinsi Jatim menyatakan, kemandirian ekonomi perempuan, menjadi variabel penting munculnya tren semakin tingginya dominasi istri sebagai pemohon cerai. Tak berlebihan jika dikatakan, rekayasa ide gender -yang digagas sejak Indonesia merdeka dan dikuatkan oleh pemerintahan Orde Baru, Orde Reformasi hingga rezim saat ini- telah menemui tujuannya: kehancuran keluarga muslim.

Begitulah Kapitalisme. Negara yang dibangun berasaskan ideologi ini, makin lama makin rapuh menanggung beban kerusakan yang ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Jangankan menjadi perisai, bahkan kadang kala negara tega ‘memangsa’ rakyat yang seharusnya dilindungi dan diayominya. Ketidakberdayaan negara itu kian tampak pada solusi yang ditawarkannya. Di Indonesia, legalisasi dan implementasi UU PKDRT, UU Perlindungan Anak, dan sejenisnya terbukti sia-sia dalam menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

Alih-alih mencari solusi tuntas, pemerintah malah membiarkan publik negeri ini sibuk berdebat tentang upaya praktis, hukuman kebiri untuk pelaku paedofil atau menerbitkan aturan baru. Meskipun beberapa pihak menilai sanksi hukum di Indonesia amat lemah, namun solusi yang diajukan tidak pernah beranjak dari pembuatan aturan yang dinilai lebih baru. Bukan keluar dari sistem yang rusak, bahkan malah menambah kerusakan.

Fenomena inilah yang menjangkiti umat, termasuk perempuan dan generasi muda. Pemerintah yang tak peduli terhadap nasib rakyat, krisis ekonomi yang terjadi secara periodik, kesenjangan yang makin lebar antara si kaya pemilik korporasi dan si miskin yang terpinggirkan, menjadi realitas yang terjadi pada penganut kapitalis. Akibatnya, hidup bagi mereka adalah sekedar bertahan dari tuntutan kehidupan yang serba mahal. Belenggu untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadikan mereka tak peduli dengan syariat. Memang kadang kala mereka masih menghadirkan Allah, namun itu hanya terjadi di hadapan sajadah. Mereka masih peduli dengan sesama, tapi tidak mau menjadi berbeda dengan kemuslimannya. Mereka tak ingin Islam hadir formal dalam negara. Padahal, tanpa Negara, makin sulit syariah Islam eksis di muka bumi.

Di pihak lain, godaan kehidupan kapitalis materialistik membuat mereka haus untuk selalu menikmatinya. Gaya hidup hedonis yang tumbuh subur di era liberal ini membuat mereka nyaman dengan sekularisme. Syariat hanya mereka butuhkan saat mati saja, karena dalam keseharian mereka telah mendapatkannya dari ide kapitalistik.

Itulah potret keluarga muslim saat ini. Gempuran pemikiran liberal sudah sangat luar biasa. Selain pemerintah, amat banyak ‘sukarelawan’ yang memperjuangkan nilai-nilai Barat dengan cara mengambil hati kalangan sekularis atau Islam moderat. Hak asasi manusia (HAM) menjadi tuhan mereka, sehingga sah-sah saja jika perempuan dan anak menjadi komoditas penting untuk menyalurkan kesenangan mereka. Fenomena ini juga kian menghalangi syariat untuk diterapkan dalam kehidupan. Begitulah penyesatan yang dilakukan kapitalis dan semua anteknya, namun sungguh sedikit kaum muslimin yang mau berpikir dan segera menanggalkan dan meninggalkannya.

Firman Allah Swt: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS.al-An'am [6]: 116).

Begitulah kapitalisme. Ideologi itu mampu mengalihkan fitrah dan fungsi dasar perempuan sebagai ibu, penjaga generasi dan peradaban. Kian lama kian terbukti bahwa kapitalis makin gagal mewujudkan perlindungan. Semua itu menjadi buah buruk akibat manusia memilih kapitalis sebagai cara hidup, dan mencampakkan aturan Allah sebagai sistem hidup. Kenyataan inilah yang seharusnya dipahami, direnungkan dan menjadi alasan untuk berjuang mengubah hidup yang menyengsarakan ini. Umat juga harus mengkaji dan memahami kebeningan syariat Islam yang memberikan jaminan perlindungan dan kesejahteraan. Jaminan yang diberikan Allah, Sang Pemilik semesta bagi seluruh alam, tidak hanya bagi kaum muslimin saja.

Firman Allah Swt: “Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu, Kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (QS al-A‘raf [7]: 96) (Ringkasan Makalah KIN 3 2015). 

Khatimah

Jadi jelas kan, bahwa yang layak menjadi panutan remaja putri, dan kaum perempuan pada umumnya, tidak hanya Kartini. Jangan karena ‘ia’ Kartini maka kita meneladani. Tapi karena ‘kita’ muslimah maka kita layak dapat teladan lebih banyak dan lebih baik. Salah satunya dari Al-Khansa ra. Seorang muslimah pejuang, produk didikan kurikulum Rasulullaah saw.

Karena itu, percayalah, satu-satunya sistem yang mampu menjadi perisai hakiki bagi perempuan hanyalah sistem Khilafah Islamiyah. Hanya Khilafah yang pasti menjamin hak anak melalui kemampuan keluarga dan ri’ayah (pemeliharaan) negara dalam melindungi semua warganya, termasuk dari keburukan dan penyesatan yang dilakukan melalui sarana apapun. Hanya Khilafah yang pasti memampukan keluarga untuk memuliakan perempuan sebagai ibu, dan menyejahterakan semua anggotanya. Khilafah pula yang pasti menjamin ibu menjalankan fungsi utamanya mempersiapkan generasi unggul penerus dan penjaga peradaban mulia yang diberkahi Allah Swt.

Mungkin sekelumit pernyataan bentuk kesadaran Kartini terhadap kesalahan standar panutan dari Barat, yang pernah ia kirimkan kepada Nyonya Abendanon pada 27 Oktober 1902 dapat sejenak kita renungi: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”

Wallaahu a’lam bish showab [].

No comments:

Post a Comment