Friday, 16 September 2016

Cerdas Menyikapi Dugaan Kemaksiatan

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Publik terhenyak dengan kemunculan Ario Kiswinar Teguh yang mengaku sebagai anak motivator kondang Mario Teguh. Sedihnya, Kiswinar mengungkapkan bahwa ia tak diakui sebagai anak oleh Pak Mario. Tak pelak, opini ini di tengah-tengah masyarakat pun bergolak. Bukan hanya di dunia nyata, tapi juga dunia maya. Netizen bahkan sampai gemas hingga usulan tes DNA mengemuka.
Lebih parahnya, tak sedikit pula netizen yang menghujat Pak Mario. Kalimat-kalimat bernada tendensius pun tak terhindarkan. Beliau yang selama ini dikenal dengan deretan kata bijak, pamornya langsung terjun bebas seiring mencuatnya kasus ini. Bahkan diberitakan, Pak Mario menderita kerugian hingga Rp 7 miliar akibat ‘perseteruan’ dengan Kiswinar ini [1]. Karenanya, tanpa bermaksud membahas permasalahan ini dari sosok Pak Mario secara pribadi, pun tanpa bermaksud membela pihak Pak Mario, namun publik hendaknya lebih cerdas dalam mendudukkan perkara ini. Pun perkara selainnya.

Menjadi Baik Merupakan Suatu Proses

Diketahui bersama bahwa Pak Mario sering menyampaikan kata-kata bijak. Tak jarang, beliau mengutipnya dari ayat Al-Quran atau juga hadits Rasulullaah saw. Adanya kasus dengan Kiswinar, menjadikan kata-kata bijak Pak Mario seolah bumerang. Publik meragukannya sebagai orang baik sebagaimana indah dan manisnya kata-kata sarat motivasi yang sering beliau sampaikan. Namun yang justru berbahaya adalah ketika kita juga turut meragukan kebenaran makna dalam kata-kata bijak tersebut, padahal bisa jadi kata-kata bijak tersebut yang kebetulan diambil dari nash syara’. Karena itu, masyarakat harus proporsional dalam menempatkan perkara dan seyogyanya tidak men-generalisasi.
Kita harus ingat, Islam sebagai dien yang sempurna, sangat menghargai sebuah proses. Menjadi orang baik sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt, itu juga merupakan suatu proses. Dengan adanya proses, seorang muslim akan paham makna belajar. Belajar adalah aktivitas vital dalam memahami ayat-ayat Allah Swt. Dan sesungguhnya, hidup adalah belajar. Adanya ungkapan “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat” menunjukkan betapa Islam sangat menghargai proses belajar. Firman Allah Swt:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imron [3]: 190).

Menyikapi Dugaan Kemaksiatan Seorang Individu Muslim

Seorang muslim yang melakukan kemaksiatan, ada yang berusaha menutupi dan menyembunyikan kemaksiatannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abû Hurairah ra, ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “…Barangsiapa menutupi kesalahan seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat…” [2].
Meskipun demikian, seorang muslim selainnya hendaknya menjaga lisannya untuk tidak membicarakan kemaksiatan orang-orang yang secara terang-terangan melakukan maksiat. Hal ini bukan dalam rangka menutupi aibnya, tapi karena khawatir akan tersebarnya perbuatan keji di tengah-tengah orang-orang yang beriman. Juga karena semata-mata menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat. Kecuali jika membicarakan kemaksiatan tersebut dalam rangka mengingatkan akan bahayanya orang fasik yang melakukan maksiat secara terang-terangan tadi. Semua ini berlaku jika suatu kesalahan bahayanya terbatas pada pelakunya saja dan tidak merembet kepada yang lainnya [2].
Namun ada pula orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan. Dalam hal ini tidak ada keringanan untuk menutupinya. Karena ia telah mencemarkan dirinya sendiri dan telah membuka perlindungan Allah atas darinya, dan apa yang dilakukannya jelas diharamkan. Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari Abû Hurairah ra, ia berkata; sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan. Termasuk terang-terangan dalam kemaksiatan dan kefasikan adalah jika seseorang melakukan maksiat di malam hari, kemudian pada pagi harinya —padahal ia telah ditutup aibnya oleh Allah—, ia berkata, “Wahai fulan, aku tadi malam melaku-kan begini dan begini.” Orang itu di malam hari telah ditutup aibnya oleh Allah, tetapi di pagi harinya ia membuka sendiri perlindungan Allah padanya.” [2].
Karenanya, ketika dalam salah satu fase kehidupannya ternyata seorang muslim diketahui bermaksiat, maka tetap hargai usahanya ketika di sisi lain ia sedang ber-amar ma'ruf nahyi mungkar. Meski memang Allah Swt juga telah memperingatkan kaum muslim yang demikian. Firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (TQS. Ash-Shaaf [61]:2-3)

Namun kewajibannya untuk amar ma’ruf nahyi mungkar tidaklah gugur meski ia bermaksiat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullaah saw: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari). Amar ma’ruf nahyi mungkar adalah wajib bagi setiap individu muslim. Karena itu, janganlah menghalang-halangi orang-orang yang ingin ber-amar ma’ruf nahyi mungkar, apalagi menghujatnya hingga taraf yang tendensius. Kita harus pahami, status seorang muslim sebagai seorang manusia, adalah tempatnya salah dan lupa. Maka, hendaknya kita tidak menghujat seorang pendosa saat ia menyampaikan nasihat. Firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 11).

Prasangka seorang muslim kepada muslim yang lain haruslah mengedepankan prasangka yang baik (husnudzan). Firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 12).

Menerima dan Memahami Islam, Wujud Kecerdasan

Karena itu, kita harus cerdas. Lihatlah sumber kata-kata bijak yang ia sampaikan. Jika ternyata kata-kata tersebut berupa kebenaran yang bersumber dari dalil syariat Islam, maka tetap harus diterima, meski yang menyampaikan adalah seorang muslim yang masih banyak cacatnya. Firman Allah Swt:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 2).

Juga firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208).

Jika ternyata di balik semua kata-kata bijaknya ditemukan ia bermaksiat, maka jangan mencontoh kemaksiatannya. Karena kemaksiatan tersebut adalah perkara individual antara dirinya dengan Allah Swt semata. Ia akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Swt, jadi itu bukan urusan orang lain.
Amar ma’ruf nahyi mungkar sebagai salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain, memiliki tata cara yang harus diperhatikan, sebagaimana firman Allah Swt:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. An-Nahl [16]: 125).

Khatimah

Penting juga kiranya bagi kita untuk memperhatikan nasihat salah satu shahabat Rasulullaah saw, yaitu Ali bin Abi Thalib ra, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”. Maka, tetaplah menerima kebenaran yang disampaikan oleh seorang muslim yang mencoba ber-amar ma'ruf nahyi mungkar kepada kita, kendati ia bukan orang yang bersih dari dosa. Karena sebagai seorang muslim, tentu kita pernah mendengar bahwa Islam juga mengajarkan tentang taubat.
والله أعلم بالصواب
لا حولا ولا قوة الا بالله

Pustaka:

[2] Kitab Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah

No comments:

Post a Comment