Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
Publik
terhenyak dengan kemunculan Ario Kiswinar Teguh yang mengaku sebagai
anak motivator kondang Mario Teguh. Sedihnya, Kiswinar mengungkapkan bahwa ia
tak diakui sebagai anak oleh Pak Mario. Tak pelak, opini ini di tengah-tengah
masyarakat pun bergolak. Bukan hanya di dunia nyata, tapi juga dunia maya.
Netizen bahkan sampai gemas hingga usulan tes DNA mengemuka.
Lebih
parahnya, tak sedikit pula netizen yang menghujat Pak Mario. Kalimat-kalimat
bernada tendensius pun tak terhindarkan. Beliau yang selama ini dikenal dengan
deretan kata bijak, pamornya langsung terjun bebas seiring mencuatnya kasus
ini. Bahkan diberitakan, Pak Mario menderita kerugian hingga Rp 7 miliar akibat
‘perseteruan’ dengan Kiswinar ini [1]. Karenanya, tanpa bermaksud membahas
permasalahan ini dari sosok Pak Mario secara pribadi, pun tanpa bermaksud
membela pihak Pak Mario, namun publik hendaknya lebih cerdas dalam mendudukkan
perkara ini. Pun perkara selainnya.
Menjadi Baik Merupakan
Suatu Proses
Diketahui
bersama bahwa Pak Mario sering menyampaikan kata-kata bijak. Tak jarang, beliau
mengutipnya dari ayat Al-Quran atau juga hadits Rasulullaah saw. Adanya kasus
dengan Kiswinar, menjadikan kata-kata bijak Pak Mario seolah bumerang. Publik
meragukannya sebagai orang baik sebagaimana indah dan manisnya kata-kata sarat
motivasi yang sering beliau sampaikan. Namun yang justru berbahaya adalah
ketika kita juga turut meragukan kebenaran makna dalam kata-kata bijak tersebut,
padahal bisa jadi kata-kata bijak tersebut yang kebetulan diambil dari nash
syara’. Karena itu, masyarakat harus proporsional dalam menempatkan perkara dan
seyogyanya tidak men-generalisasi.
Kita
harus ingat, Islam sebagai dien yang sempurna, sangat menghargai sebuah proses.
Menjadi orang baik sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt, itu juga merupakan
suatu proses. Dengan adanya proses, seorang muslim akan paham makna belajar. Belajar
adalah aktivitas vital dalam memahami ayat-ayat Allah Swt. Dan sesungguhnya, hidup
adalah belajar. Adanya ungkapan “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga
liang lahat” menunjukkan betapa Islam sangat menghargai proses belajar.
Firman Allah Swt:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imron [3]: 190).
Menyikapi Dugaan Kemaksiatan
Seorang Individu Muslim
Seorang
muslim yang melakukan kemaksiatan, ada yang berusaha menutupi dan
menyembunyikan kemaksiatannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abû Hurairah ra,
ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “…Barangsiapa menutupi kesalahan
seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat…” [2].
Meskipun
demikian, seorang muslim selainnya hendaknya menjaga lisannya untuk tidak membicarakan
kemaksiatan orang-orang yang secara terang-terangan melakukan maksiat. Hal ini
bukan dalam rangka menutupi aibnya, tapi karena khawatir akan tersebarnya
perbuatan keji di tengah-tengah orang-orang yang beriman. Juga karena
semata-mata menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Kecuali jika membicarakan kemaksiatan tersebut dalam rangka mengingatkan akan
bahayanya orang fasik yang melakukan maksiat secara terang-terangan tadi. Semua
ini berlaku jika suatu kesalahan bahayanya terbatas pada pelakunya saja dan
tidak merembet kepada yang lainnya [2].
Namun
ada pula orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan. Dalam hal ini
tidak ada keringanan untuk menutupinya. Karena ia telah mencemarkan dirinya
sendiri dan telah membuka perlindungan Allah atas darinya, dan apa yang
dilakukannya jelas diharamkan. Hal ini berdasarkan hadits mutafaq ‘alaih dari
Abû Hurairah ra, ia berkata; sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw
bersabda: “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan
dalam melakukan kemaksiatan. Termasuk terang-terangan dalam kemaksiatan dan
kefasikan adalah jika seseorang melakukan maksiat di malam hari, kemudian pada
pagi harinya —padahal ia telah ditutup aibnya oleh Allah—, ia berkata, “Wahai
fulan, aku tadi malam melaku-kan begini dan begini.” Orang itu di malam hari
telah ditutup aibnya oleh Allah, tetapi di pagi harinya ia membuka sendiri
perlindungan Allah padanya.” [2].
Karenanya,
ketika dalam salah satu fase kehidupannya ternyata seorang muslim diketahui
bermaksiat, maka tetap hargai usahanya ketika di sisi lain ia sedang ber-amar
ma'ruf nahyi mungkar. Meski memang Allah Swt juga telah memperingatkan kaum
muslim yang demikian. Firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ
اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(TQS. Ash-Shaaf [61]:2-3)
Namun
kewajibannya untuk amar ma’ruf nahyi mungkar tidaklah gugur meski ia
bermaksiat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullaah saw: “Sampaikanlah dariku
walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari). Amar ma’ruf nahyi mungkar adalah
wajib bagi setiap individu muslim. Karena itu, janganlah menghalang-halangi
orang-orang yang ingin ber-amar ma’ruf nahyi mungkar, apalagi menghujatnya
hingga taraf yang tendensius. Kita harus pahami, status seorang muslim sebagai
seorang manusia, adalah tempatnya salah dan lupa. Maka, hendaknya kita tidak
menghujat seorang pendosa saat ia menyampaikan nasihat. Firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا
نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا
أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ
الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 11).
Prasangka
seorang muslim kepada muslim yang lain haruslah mengedepankan prasangka yang
baik (husnudzan). Firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا
تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ
لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka
(kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (TQS.
Al-Hujurat [49]: 12).
Menerima dan Memahami Islam,
Wujud Kecerdasan
Karena
itu, kita harus cerdas. Lihatlah sumber kata-kata bijak yang ia sampaikan. Jika
ternyata kata-kata tersebut berupa kebenaran yang bersumber dari dalil syariat
Islam, maka tetap harus diterima, meski yang menyampaikan adalah seorang muslim
yang masih banyak cacatnya. Firman Allah Swt:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah
[2]: 2).
Juga firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
(TQS. Al-Baqarah [2]: 208).
Jika
ternyata di balik semua kata-kata bijaknya ditemukan ia bermaksiat, maka jangan
mencontoh kemaksiatannya. Karena kemaksiatan tersebut adalah perkara individual
antara dirinya dengan Allah Swt semata. Ia akan mempertanggungjawabkannya di
hadapan Allah Swt, jadi itu bukan urusan orang lain.
Amar
ma’ruf nahyi mungkar sebagai salah satu kewajiban seorang muslim kepada muslim
yang lain, memiliki tata cara yang harus diperhatikan, sebagaimana firman Allah
Swt:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (TQS. An-Nahl [16]: 125).
Khatimah
Penting
juga kiranya bagi kita untuk memperhatikan nasihat salah satu shahabat
Rasulullaah saw, yaitu Ali bin Abi Thalib ra, “Lihatlah apa yang dikatakan,
jangan melihat siapa yang mengatakan”. Maka, tetaplah menerima kebenaran yang
disampaikan oleh seorang muslim yang mencoba ber-amar ma'ruf nahyi mungkar kepada
kita, kendati ia bukan orang yang bersih dari dosa. Karena sebagai seorang
muslim, tentu kita pernah mendengar bahwa Islam juga mengajarkan tentang
taubat.
والله أعلم بالصواب
لا حولا ولا قوة الا بالله
Pustaka:
[2] Kitab Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah
No comments:
Post a Comment