Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
Muqodimah: Keyakinan terhadap Pertolongan Allah Swt
Kejahatan-kejahatan kafir Quraisy terhadap Rasul saw dan kaum Muslim semakin bertambah. Akibatnya, medan dakwah mereka menjadi semakin sempit. Tidak ada lagi pertolongan yang bisa diharapkan Rasul dari kabilah-kabilah Arab setelah terjadi penolakan yang menyakitkan dan pengusiran yang dilakukan Bani Tsaqif terhadap beliau dari Thaif. Begitu juga setelah penolakan Bani Kindah, Kilab, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, dan Bani Hanifah, pada saat beliau menjelaskan kerasulannya kepada mereka di musim haji. Tidak ada harapan untuk mengarahkan seorang pun dari orang-orang Quraisy kepada Islam.
Hari-hari terus berlalu, keberadaan Rasul saw di tengah-tengah kaumnya semakin terkucil. Dendam kafir Quraisy terhadap beliau semakin dalam dan masyarakat semakin menjauh. Meskipun demikian, keyakinan beliau saw dan para sahabatnya semakin kuat terhadap pertolongan Allah dan kemenangan agama-Nya atas seluruh agama-agama yang ada. Beliau tanpa kenal lelah terus mengajak manusia, di setiap kesempatan.
Secercah Asa dari Madinah
Apabila datang musim haji dan banyak orang dari berbagai penjuru Jazirah Arab datang berkumpul di Makkah, beliau mendatangi kabilah-kabilah tersebut dan mengajak mereka kepada Islam, tanpa mempedulikan lagi apakah kabilah-kabilah itu menerima dakwahnya atau berpaling dengan cara yang tidak simpatik.
Sesungguhnya Allah mengutus beliau dengan membawa Islam dan beliau tidak pernah ragu-ragu terhadap pertolongan dan bantuan-Nya serta kemenangan untuk agama-Nya. Beliau selalu setia menanti pertolongan Allah, padahal saat itu beliau berada dalam kesulitan akibat terhalanginya dakwah, menerima berbagai kesulitan dan kesempitan hidup dari orang-orang kafir Quraisy.
Penantian itu tidak lama hingga kabar gembira akan kemenangan tiba dari Madinah. Hal itu terjadi tatkala beberapa orang Khazraj datang ke Makkah di musim haji. Rasul menemui mereka, mengajaknya berdialog, menanyakan keadaan mereka, dan mengajak mereka kepada agama Allah. Mereka saling berpandangan satu sama lain, “Demi Allah, sesungguhnya dia seorang Nabi yang pernah dijanjikan kepada kalian oleh orang-orang Yahudi. Karena itu, jangan sampai ada orang yang akan mendahului kalian.”
Mereka menerima dakwah Rasul dan masuk Islam sambil berkata kepada beliau, “Sesungguhnya kami meninggalkan kaum kami (Aus dan Khazraj). Tidak ada kaum yang permusuhan dan kejahatannya seperti permusuhan dan kejahatan mereka. Semoga melalui engkau, Allah mempersatukan mereka. Jika Allah berhasil mempersatukan mereka dengan kepemimpinanmu, maka tidak ada orang yang lebih mulia darimu.”
Merekapun kembali ke Madinah dan menceritakan keislaman mereka kepada kaumnya. Terjalinlah hubungan batin yang melapangkan dada dan mempertautkan jiwa, penuh dengan kesyahduan terhadap agama yang baru itu. Sejak saat itu, tidak satu rumah pun di perkampungan Aus dan Khazraj kecuali di dalamnya disebut-sebut nama Muhammad saw.
Tatkala tahun berikutnya tiba dan musim haji datang, 12 orang laki-laki dari penduduk Madinah datang. Mereka dan Nabi saw bertemu di ‘Aqabah, lalu mereka membai’at beliau dalam peristiwa Bai’at ‘Aqabah Pertama. Mereka membai’at beliau bahwa seorang pun di antara mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan bukti-bukti yang direkayasa di antara dua tangan dan kakinya dan tidak akan melakukan maksiat dalam hal yang ma’ruf. Jika dia memenuhinya, maka baginya surga dan jika dia mengingkari sedikt saja dari hal tersebut, maka urusannya dikembalikan kepada Allah.
Bila Allah menghendaki, maka Dia akan mengadzabnya dan jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya. Setelah mereka menyempurnakan bai’at tersebut dan musim haji berakhir, mereka seluruhnya kembali ke Madinah.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Madinah itu hendak kembali, Rasulullah saw mengutus Mush’ab bin ‘Umair menemani mereka. Mush’ab diperintahkan beliau agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka. Sehingga dia dinamakan Muqarri’ Madinah: Mush’ab. Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah.”
Ketika Tokoh Umat Masuk Islam
Mush’ab terus berkeliling Madinah menemui orang-orang dan mengajak mereka masuk Islam serta mengajarkan Islam pada mereka. Pada suatu hari, As’ad bin Zurarah keluar bersama Mush’ab bin ‘Umair ke pemukiman Bani ‘Abdul Asyhal dan pemukiman Bani Zhafar. Sa’ad bin Mu’adz adalah anak bibi As’ad bin Zurarah. Keduanya masuk ke sebuah kebun di antara kebun-kebun Bani Zhafar dan berada di dekat sumur yang bernama sumur Muraq. Keduanya duduk di kebun itu sementara kaum Muslim datang dan berkumpul dengan mereka.
Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair ketika itu menjadi pemuka dari Bani Abdul Asyhal. Keduanya adalah orang musyrik pemeluk agama kaumnya. Tatkala keduanya mendengarkan ucapan Mush’ab, Sa’ad bin Mu’adz berkata kepada Usaid bin Hudhair: “Saya tidak benci padamu. Temuilah dua orang itu yang datang ke tempat kita hanya untuk membodohi orang-orang lemah di antara kita. Usirlah dan cegahlah keduanya karena keduanya hendak datang ke tempat kita. Seandainya As’ad bin Zurarah tidak berasal dari kaum saya sebagaimana yang telah kamu ketahui, tentu saya sendiri yang akan melakukannya. Dia adalah anak bibi saya, dan saya tidak menemukan alasan untuk mencegahnya.”
Usaid bin Hudhair mengambil tombak pendeknya, kemudian berangkat menemui keduanya. Ketika As’ad bin Zurarah melihatnya, maka dia berkata kepada Mush’ab bahwa orang itu adalah pemuka kaumnya yang datang kepadamu, mudah-mudahan dia membenarkan Allah. Mush’ab menjawab, “Jika dia bersedia duduk, aku akan berbicara padanya.”
Usaid bin Hudhair akhirnya duduk di depan keduanya dengan wajah cemberut sambil menggerutu, lalu berkata, “Apa yang kalian bawa kepada kami? Kalian hanya akan membodohi orang-orang lemah kami! Menyingkirlah kalian dari kami, jika memang kalian memiliki kepentingan yang berhubungan dengan diri kalian sendiri!” Mush’ab berkata: “Atau sebaiknya engkau duduk dan mendengarkan dulu? Jika engkau menyukainya maka engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau membencinya, maka cukuplah bagimu apa yang engkau benci,” Usaid menjawab: “Boleh juga.”
Kemudian dia menancapkan tombak pendeknya dan duduk di hadapan keduanya. Lalu Mush’ab menjelaskan Islam dan membacakan al-Quran kepadanya. Keduanya (Mush’ab dan As’ad bin Zurarah) berkata–berkenaan dengan yang dibicarakan tentang keduanya–: “Demi Allah, sungguh kami telah mengetahui Islam ada di wajahnya, sebelum dia berkata untuk menerimanya dengan suka cita”.
Tidak berapa lama Usaid berkata, “Alangkah bagus dan indahnya kalimat ini! Apa yang kalian lakukan ketika akan memeluk agama ini?” Keduanya menjelaskan kepadanya: “Mandi, lalu sucikan dirimu dan pakaianmu, kemudian ucapkanlah syahadat, setelah itu shalatlah dua rakaat”. Usaid berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya. Dia membaca syahadat, kemudian berdiri menunaikan shalat dua rakaat. Usaid berkata, “Bersamaku ada seorang laki-laki. Jika dia mengikuti kalian, maka tidak seorang pun dari kaumnya yang akan menentangnya. Sekarang aku akan mengajak Sa’ad bin Mu’adz menemui kalian berdua.”
Usaid mencabut tombak pendeknya dan segera pergi menemui Sa’ad serta kaumnya. Ketika itu mereka sedang duduk-duduk di tempat pertemuan, maka ketika Sa’ad bin Mu’adz melihatnya segera menyambutnya dan berkata, “Aku bersumpah atas nama Allah. Sungguh Usaid bin Hudhair telah datang pada kalian bukan dengan wajah seperti ketika dia pergi dari kalian”.
Ketika Usaid telah duduk di hadapan orang yang menyambutnya itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau lakukan?” Usaid menjawab, “Aku memang telah berbicara kepada dua orang laki-laki itu. Demi Allah, aku tidak melihat rencana jahat pada keduanya. Aku telah melarang keduanya, namun keduanya berkata, ‘Kami akan melakukan apa yang engkau kehendaki.’ Aku juga telah menceritakan bahwa Bani Haritsah keluar dari perkampungannya menemui As’ad bin Zurarah untuk membunuhnya. Hal itu karena mereka mengetahui bahwa As’ad adalah putra bibimu. Tujuannya agar mereka bisa melindungimu.”
Sa’ad spontan berdiri penuh amarah. Dia khawatir terhadap apa yang dikabarkan kepadanya tentang Bani Haritsah. Dia mengambil tombak pendek yang berada di tangan Usaid, lalu berkata, “Demi Allah, aku melihatmu sama sekali tidak berguna!”. Kemudian dia segera keluar dan menemui mereka berdua. Tatkala Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang, dia menyadari bahwa Usaid hanya menginginkan dia mendengar perkataan dua orang yang ada di hadapannya. Dia berdiri tegak menghadap keduanya dengan wajah memendam kemarahan dan berkata, “Wahai Abu Umamah!, seandainya antara aku dan engkau tidak ada hubungan kerabat, tentu tombak ini sudah aku hunjamkan ke dadamu. Engkau datang ke tempat kami dengan membawa apa yang kami benci.”
As’ad menoleh kepada Mush’ab seraya berkata, “Wahai Mush’ab, telah datang kepadamu seorang tokoh. Demi Allah, di belakangnya ada kaumnya. Jika dia mengikutimu, maka tidak seorang pun dari mereka yang akan menentangmu.”
Mush’ab berkata kepadanya, “Lebih baik anda duduk dan dengarkan. Jika anda suka dan menginginkannya maka anda bisa menerimanya. Namun, jika anda membencinya, kami akan menjauhkan dari anda segala hal yang anda benci.” Sa’ad berkata, “Boleh juga, aku terima.” Tombak pendek di tangannya ditancapkan di tanah, lalu ia duduk. Lalu Mush’ab menyampaikan Islam dan membacakan al-Quran kepadanya. Keduanya bergumam, “Demi Allah, kami melihat Islam di wajahnya sebelum dia berbicara untuk menerimanya dengan suka cita.”
Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika kalian memeluk Islam dan masuk agama ini?” Keduanya menjawab, “Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah syahadat dan shalat dua rakaat.”
Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan shalat dua rakaat. Setelah itu ia mencabut tombak pendeknya, dan segera menghampiri kaumnya. Dia berjalan dengan tegap disertai oleh saudara sepupunya, Usaid bin Hudhair. Ketika kaumnya melihat dia, mereka berkata, “Kami bersumpah dengan nama Allah, sungguh Sa’ad telah kembali kepada kalian bukan dengan wajah seperti waktu dia pergi dari kalian!”
Tatkala Sa’ad berdiri menghadap kaumnya, dia berkata, “Wahai Bani ‘Abdul Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di tengah-tengah kalian?” Mereka menjawab serentak, “Engkau adalah pemimpin kami dan yang paling cerdas di antara kami serta memiliki pribadi paling baik”. Sa’ad kembali berkata, “Sesungguhnya ucapan kaum laki-laki dan wanita kalian kapadaku adalah haram, hingga kalian semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Tidak berapa lama, keduanya (Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Muadz) berkata, “Demi Allah, tidak akan ada seorang laki-laki maupun wanita, saat sore hari di pemukiman Bani ‘Abdul Asyhal, kecuali dia akan jadi muslim dan muslimah”.
Usaid bin Hudhair ra dan Sa’ad bin Muadz ra, Tokoh Umat Pejuang Islam
Usaid bin Hudhair ra, ia adalah seorang pemimpin Madinah, bangsawan Arab dan pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya. Sewaktu Islam telah memilih dirinya dan ia ditunjuki ke jalan yang mulia lagi terpuji, bertambah memuncaklah kemuliaannya. Bertambah tinggi pula martabatnya, yakni di kala ia mengambil kedudukan mejnadi seorang pelopor penganut agama Islam dan pembela Allah serta Rasul-Nya.
Dalam hati serta akal Usaid bersinar cahaya iman yang kuat, yang memberinya bekal sifat hati-hati, penyantun dan penilai yang tepat, sehingga menjadikannya orang kepercayaan. Dengan daya pikir yang mendalam, sikap yang tenang dan ucapan yang jelas, Usaid senantiasa berhasil memecahkan persoalan-persoalan dengan analisis-analisisnya yang nyata, tepat dan tajam.
Di hari Saqifah, tak lama setelah wafatnya Rasulullaah saw, segolongan kaum Anshor yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah ra, mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang Khilafah. Ketika perdebatan memanas, pendapat Usaid berpengaruh besar dalam menjernihkan suasana. Kalimat-kalimat yang diucapkannya laksana cahaya fajar di waktu subuh dalam menentukan arah.
Usaid berdiri dan berpidato di hadapan kaum Anshor, katanya, “Tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullaah saw adalah dari golongan kaum Muhajirin. Karena itu, Khalifah juga sewajarnya dari kaum Muhajirin. Dan sesungguhnya kita adalah pembela Rasulullaah. Maka kewajiban kita sekarang adalah untuk membela Khalifah-nya.” Ternyata, kata-kata Usaid ini menjadi penawar dan pendingin suasana. Tak heran kiranya Rasulullaah saw pernah bersabda tentang dirinya: “Sebaik-baik laki-laki, adalah Usaid bin Hudhair...”. Masya Allah.
Sementara Sa’ad bin Mu’adz ra, pada usia 31 tahun ia masuk Islam, dan pada usia 37 tahun ia pergi menemui syahidnya. Diantara hari keislamannya hingga wafatnya, telah diisi Sa’ad dengan karya-karya gemilang dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Masuk Islam-nya Sa’ad bagai menjadikan Madinah disinari matahari baru, yang pada garis edarnya akan berputar dan beriringan qalbu manusia yang tidak sedikit jumlahnya, bersama Rasulullaah saw menyerahkan diri mereka kepada Allah Swt.
Di masa Perang Badar, Sa’ad bin Mu’adz ra bangkit bagai bendera di atas tiangnya. Ia berkata kepada Rasul saw, “Wahai Rasulullaah, kami telah beriman kepada anda. Kami percaya dan mengakui bahwa apa yang anda bawa adalah hal yang benar. Telah kami berikan pula janji-janji dan ikrar-ikrar kami. Maka laksanakanlah terus Ya Rasulullaah, apa yang anda inginkan dan kami akan selalu bersama anda. Dan demi Allah yang telah mengutus anda membawa kebenaran, seandainya anda menghadapkan kami ke lautan lalu anda menceburkan diri ke dalamnya, pasti kami akan ikut mencebur. Tak seorang pun yang akan mundur, dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi. Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan. Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada anda, tindakan kami yang menyenangkan hati. Maka marilah kita berangkat dengan berkah Allah ta’ala.”
Saat Perang Uhud, ketika kaum Muslimin telah tercerai-berai disebabkan serangan tentara musyrik Quraisy, maka takkan sulit menemukan kedudukan Sa’ad, yang kakinya seolah telah terpaku ke bumi di dekat Rasulullaah saw. Ia mempertahankan dan membela Rasul mati-matian, suatu hal yang agung, terpancar dan sikap hidupnya.
Kemudian datang pula saat Perang Khandaq (Perang Ahzab), yang dengan jelas membuktikan kepahlawanan Sa’ad, hingga harus ia bayar dengan kesyahidannya. Perang ini adalah bukti nyata persekongkolan jahat dan siasat licik kepada kaum Muslimin, oleh kaum Yahudi Bani Quraizhah, dimana bani tersebut bermaksud menghancurkan kaum Muslimin dari dalam kota Madinah. Saat Rasul mengetahui hal ini, beliau mengutus Sa’ad bin Mu’adz ra dan Sa’ad bin Ubadah ra kepada Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraizhah. Namun alangkah terkejutnya kedua utusan Nabi ini, karena jawaban Ka’ab adalah “Tak ada persetujuan dan perjanjian antara kami dengan Muhammad.”
Rasul saw pun merundingkan penyelesaian pengkhianatan Bani Quraizhah ini dengan Sa’ad bin Mu’adz ra. Di tengah kondisi Sa’ad yang terluka pasca tersambar anak panah kaum musyrikin di tengah kecamuk peperangan, Rasul berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad, berilah keputusanmu terhadap Bani Quraizhah.” Jawab Sa’ad, “Menurut pertimbanganku, orang-orang yang ikut berperang di antara mereka hendaklah dihukum bunuh. Perempuan dan anak mereka diambil menjadi tawanan, sedang harta kekayaan mereka dibagi-bagikan.”
Luka yang diderita Sa’ad makin hari makin parah. Pada suatu hari Rasul saw menjenguknya, dimana kondisinya tengah di akhir hayatnya. Rasul saw meraih kepalanya dan meletakkan di pangkuan beliau, lalu beliau berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Sa’ad telah berjihad di jalan-Mu. Ia telah membenarkan Rasul-Mu dan telah memenuhi kewajibannya. Maka terimalah ruhnya dengan sebaik-baiknya cara Engkau menerima ruh.”
Kata-kata Rasul ini telah memberikan kesejukan dan perasaan tenteram kepada ruh yang hendak pergi. Kata Sa’ad untuk terakhir kalinya, “Salam atasmu wahai Rasulullaah. Ketahuilah bahwa aku mengakui bahwa anda adalah Rasulullaah.” Rasulullaah pun memandangi wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr.”
Wafatnya Sa’ad terasa berat bagi kaum Muslimin. Namun demikian, mereka juga diberi kabar gembira oleh Rasulullaah saw, “Sungguh ‘Arsy Tuhan Yang Rahman bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Mu’adz.” Masya Allah.
Khatimah: Muktamar Tokoh Umat 1437 H
Tokoh umat, merekalah simpul umat. Merekalah tempat umat terikat dan bergantung, karena seorang tokoh adalah pimpinan dan panutan. Di tangan tokoh umat pulalah terletak nushroh. Tholabun nushroh adalah aktivitas dakwah dalam mencari perlindungan dan kekuasaan dari para ahlul quwwah (pemilik kekuatan). Aktivitas ini merupakan metode yang tetap dan wajib dilaksanakan untuk menegakkan Khilafah, karena aktivitas ini adalah hukum syariat yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Hal ini telah ditunjukkan oleh aktivitas dakwah Rasulullaah saw. Disebutkan dalam Kitab Fathul Bari Juz 7/220, Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Ketika Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah, maka beliau, saya dan Abu Bakar keluar menuju Mina.”
Dukungan tokoh-tokoh umat adalah kunci dalam perjuangan menuju tegaknya Khilafah. Di tangan mereka, opini di kalangan umat mengenai syariah dan Khilafah dapat dengan cepat diperbesar melalui berbagai uslub (cara teknis) yang memungkinkan. Dengan demikian, dukungan masyarakat luas pun akan diperoleh, sehingga para ahlul quwwah pun bersedia memberikan nushroh-nya. Semua itu dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana Mush’ab bin Umair ra yang membuka akal dan hati Usaid bin Hudhair ra dan Sa’ad bin Mu’adz ra untuk memberikan nushroh-nya kepada Rasulullaah saw, hingga Khilafah yang pertama dapat tegak di Madinah.
Tak ayal, krusial kiranya penyelenggaraan Muktamar Tokoh Umat. Tokoh umat dari berbagai kalangan akan hadir, atas izin Allah. Mereka berasal dari berbagai kalangan dan beragam latar belakang, seperti ulama, intelektual muslim, pengusaha, budayawan, insan media, dan sebagainya. Semoga acara tersebut semakin mendekatkan kaum Muslimin kepada janji dan pertolongan-Nya. #Syariah dan #Khilafah mewujudkan #IslamRahmatanlilAlamin.
Wallaahu a’lam bish showab [].