(Merespon Kasus Video Mahasiswa UI #TolakAhok- Part 2)
Oleh: Fika M. Komara
Pengambil kebijakan kampus UI dengan bantuan media, nampaknya sedang melakukan upaya menggiring opini untuk mengecam bahkan membungkam mereka yang menyuarakan “label kafir”. Permainan label sedang dimainkan, kaum muda Mahasiswa Muslim perlu terus waspada dengan kelemahan sistem sekuler demokrasi dan kelicikan kaum sekuler. Karena demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih. Opini LGBT dan pemuja kebebasan mereka nyaringkan, sementara aspirasi murni seorang mahasiswa Muslim yang menolak pemimpin kafir mereka bungkam ramai-ramai.
Inilah bentuk _media frenzy_ dari kaum sekuler liberal, mereka jelas hanya akan mempublikasikan suara dari orang-orang yang setuju dengan nilai-nilai mereka, di saat yang sama terus mencari-cari kesalahan pihak-pihak yang memiliki sudut pandang berbeda dan menentang nilai – nilai Sekuler. Di sisi lain ini merupakan bentuk keputusasaan mereka akan geliat kebangkitan Islam di media termasuk di kalangan muda mahasiswa. Mereka yang merindukan Islam dan pemimpin sejati mereka yang kini semakin banyak, dan gelombang opini ideologis Islam semakin marak. Sementara mantra sekulerisme semakin usang, dan Kapitalisme semakin tidak relevan dengan zaman.
Hal ini mengingatkan apa yang dikatakan Noam Chomsky dalam bukunya "Kuasa Politik Media" yang mengungkap peran propaganda media massa dalam rekayasa opini publik, dimana para penguasa sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan, bahkan Noam Chomsky juga mengatakan bahwa pengusaha media liberal telah mendidik orang-orang bodoh sebagai corong pengusaha dan penguasa.
Lanjut part 3...
#tolakahok
#tolakpemimpinkafir
#PenggerakOpini
#IntelektualPeradaban
#IbuGenerasiPenakluk
#islamrahmatanlilalamin
#lawanopiniliberal
Oleh: Fika M. Komara
Pengambil kebijakan kampus UI dengan bantuan media, nampaknya sedang melakukan upaya menggiring opini untuk mengecam bahkan membungkam mereka yang menyuarakan “label kafir”. Permainan label sedang dimainkan, kaum muda Mahasiswa Muslim perlu terus waspada dengan kelemahan sistem sekuler demokrasi dan kelicikan kaum sekuler. Karena demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih. Opini LGBT dan pemuja kebebasan mereka nyaringkan, sementara aspirasi murni seorang mahasiswa Muslim yang menolak pemimpin kafir mereka bungkam ramai-ramai.
Inilah bentuk _media frenzy_ dari kaum sekuler liberal, mereka jelas hanya akan mempublikasikan suara dari orang-orang yang setuju dengan nilai-nilai mereka, di saat yang sama terus mencari-cari kesalahan pihak-pihak yang memiliki sudut pandang berbeda dan menentang nilai – nilai Sekuler. Di sisi lain ini merupakan bentuk keputusasaan mereka akan geliat kebangkitan Islam di media termasuk di kalangan muda mahasiswa. Mereka yang merindukan Islam dan pemimpin sejati mereka yang kini semakin banyak, dan gelombang opini ideologis Islam semakin marak. Sementara mantra sekulerisme semakin usang, dan Kapitalisme semakin tidak relevan dengan zaman.
Hal ini mengingatkan apa yang dikatakan Noam Chomsky dalam bukunya "Kuasa Politik Media" yang mengungkap peran propaganda media massa dalam rekayasa opini publik, dimana para penguasa sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan, bahkan Noam Chomsky juga mengatakan bahwa pengusaha media liberal telah mendidik orang-orang bodoh sebagai corong pengusaha dan penguasa.
Lanjut part 3...
#tolakahok
#tolakpemimpinkafir
#PenggerakOpini
#IntelektualPeradaban
#IbuGenerasiPenakluk
#islamrahmatanlilalamin
#lawanopiniliberal
No comments:
Post a Comment