Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
Pendahuluan
Aksi Bela Islam jilid 2 yang digelar 4 November 2016 lalu memang fenomenal. Disamping menjadi trending topic dunia [1], aksi massa tergahar yang diikuti sekira 2,5 juta peserta itu berhasil mengagitasi opini publik akan urgensitas membela agama Allah Swt. Dan yang perlu dicatat, aksi ini terjadi di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Opini bela Islam yang diusung pasca kejadian penistaan surat Al-Maidah ayat 51 itu pun langsung meraih dukungan dari umat Islam di berbagai negara, seperti Bangladesh, Australia, dan Inggris. Bayangkan efek opininya yang menggeliatkan dunia, tak hanya dunia Islam. Gaungnya ibarat raksasa yang baru bangun dari tidur panjang.
Selain di Jakarta, aksi serupa juga diselenggarakan di berbagai kota besar di Indonesia, antara lain Medan, Bandung, dan Surabaya. Tak ayal, acara akbar ini jelas menarik awak media untuk memberitakannya, media nasional maupun internasional [3]. Namun yang tak kalah fenomenal, di kala sejumlah media mainstream terlabeli sering kurang berpihak pada opini bernuansa Islam, di dunia maya para netizen (warganet) secara sukarela justru ramai memberitakan keberlangsungan aksi tersebut.
Di Medan, Sumatera Utara (4/11), dimana sedianya Metro TV meliput, justru terjadi peristiwa pengusiran mobil SNG Metro TV beserta krunya oleh massa. Padahal mobil tersebut sudah sejak pagi parkir di halaman Masjid Agung Medan. Begitu mobil bergerak keluar meninggalkan lokasi dengan dikawal polisi, massa pun bertepuk tangan. Pengusiran ini diduga terkait dengan pemberitaan stasiun televisi itu yang dianggap tidak objektif dan mendukung Ahok di Pilkada DKI Jakarta [2].
Di Jakarta, saat liputan LIVE dari Masjid Istiqlal, kru Metro TV sepertinya ketakutan untuk menunjukan identitasnya sebagai jurnalis Metro TV. Terbukti, reporternya tidak mengenakan seragam Metro TV. Bahkan mikrofon yang digunakan juga tidak ada logo atau tulisan Metro TV sebagaimana lazimnya. Tak heran, Surya Paloh, pemilik stasiun TV ini, yang juga Ketua Umum Partai Nasdem, merupakan salah satu penyokong utama Ahok. Selama ini Metro TV memang sering mendapat kecaman dari umat Islam karena beritanya yang tendensius terhadap Islam dan umat Islam. Bahkan sebelum hari H, ramai beredar di sosial media (sosmed) satu gambar yang berisi tulisan “Kompas dan Metro TV tidak usah meliput kami” [3]. Cadas bukan?
Republik Netizen, Negara Tanpa Peta
Mereka yang di sosmed biasanya hanya numpang absen atau sekedar ingin disebut gaul, di hari 411 itu tiba-tiba berubah menjadi jurnalis dadakan bagi aksi yang tengah berlangsung. Mereka meng-update status-status panjang yang begitu menyentuh sanubari. Para netizen ini justru lebih jujur dan lugas dalam menyampaikan informasi di lapangan, dibanding media massa profesional. Tak pelak, dunia maya kaum netizen malah berbalik ibarat negara nyata, meski negara itu tanpa peta.
Dilansir dari salah satu situs media online, kiblat.net, aksi 411 ternyata disambung dengan “perang” opini di media sosial. Pro-kontra aksi yang menuntut penghukuman atas Ahok karena dinilai telah menistakan ayat Al-Quran, cukup ramai. Ismail Fahmi, seorang pengamat sosial media yang juga Co-Founder Awasometrics membeberkan peta “pertempuran” itu. Menurutnya, “Selepas aksi 4 November, polaritas pro-kontra kembali menguat. Dan tampak cluster (kubu) yang kontra semakin sistematis dengan dukungan berita-berita dari media besar.” Sementara, yang kubu yang pro terlihat stagnan [4].
Analisis tersebut, ujar Fahmi, dibuat berdasarkan kata kunci “bela Islam,” dan “demo 4 november,” pada Selasa, (8/11).
Dari tampilan analisis Fahmi, terlihat beberapa akun personal maupun media nasional terbelah pada dua kubu. Akun @detikcom, @GunRomli, dan @temanAhok tampak mengelompok ke dalam kubu kontra aksi damai 411. Sebaliknya, kelompok pro diisi oleh @republikaonline @DPP_FPI dan @wartapolitik. Hanya saja, akun media nasional seperti @detikcom berada dalam posisi terpisah. “Sepertinya berusaha untuk netral,” ujar Indra Kurniawan, yang juga pengamat sosial media [4].
Kendati demikian, beberapa netizen menemukan fakta menarik di balik “kemenangan” kubu yang kontra. “Ada bukti cukup kuat kelompok kontra menggunakan bot, bukan interaksi alamiah,” tutur Indra. Indra kemudian memberikan sampel penggunaan bot oleh kubu kontra yang sudah ramai beredar di kalangan netizen. Di mana, terdapat sekian banyak akun dengan redaksi posting yang sama persis, dalam waktu yang bersamaan pula [4].
Indra menawarkan tips untuk mengimbangi kelompok kontra. “Pilih tagar yang disepakati bersama. Lalu tulis broadcast di grup-grup kajian yang banyak massanya. Bagi tokoh yang mempunyai massa, bisa mengaruskan jamaahnya untuk men-share konten-konten media Islam,” ujarnya. Lebih lanjut menurut Indra, “Kalau itu bisa dilakukan, kelompok yang pro memiliki interaksi yang alamiah. Ini lebih menarik bila dibandingkan akun-akun kelompok kontra yang kebanyakan berupa bot.” Tapi ingat, “Budayakan bersosial media yang sehat. Perang sosmed boleh saja, asal jangan sampai memfitnah dan menyebar berita bohong,” tutupnya [4].
Kesadaran Umat Menuju Agitasi Opini Islam
Aksi 411 benar-benar membelalakkan mata dunia. Nasib ideologi kapitalisme yang tengah di ujung tanduk, kini makin dekat saja pada kematiannya. Pembelaan umat Islam yang baru kepada satu ayat Al-Quran saja, yaitu ayat 51 dalam surat Al-Maidah, sudah menjadi pergolakan hebat. Umat yang sebelumnya masih terbuai kebahagiaan individualistis produk kehidupan sekuler milik kapitalisme, tiba-tiba terhentak sempurna begitu satu firman Rabb mereka ternoda. Ini jelas peristiwa politik spektakuler yang tidak akan ada pihak mana pun yang mampu mengabaikan.
Berkaca pada kelugasan dunia maya, dimana netizen seolah menemukan wujud sebenar-benarnya republik ini, maka dunia nyata kemudian harus mawas diri. Ideologi kapitalisme bisa gulung tikar kapan saja ketika umat Islam sadar betul bahwa yang harus mereka bela selanjutnya tidak lagi hanya satu ayat, melainkan 6666 ayat Al-Quran. Artinya, di saat itu pula kesadaran umat akan penerapan syariat Allah itu akan mendetak tajam. Bergolak, membalikkan arah kebohongan yang selama ini selalu ditumbalkan pada umat Islam.
Sungguh, semakin hari umat makin cerdas. Mereka adalah bagian dari masyarakat luas. Namun yang harus diperhitungkan secara serius, masyarakat itu tidak tersusun dari individu-individu saja. Masyarakat itu seperti halnya air yang berada dalam sebuah tempayan besar. Jika di sekelilingnya diletakkan sesuatu yang membekukan, maka air itu akan membeku lalu mengeras (menjadi es). Begitu pula jika dilontarkan berbagai ideologi yang rusak, tentu masyarakat tersebut akan dikungkung kerusakan, dan akan terus merosot, serta terbelakang [7].
Namun jika di bawah tempayan itu diletakkan api yang membara dan berkobar, maka akan menghangatkan air, kemudian mendidih, lalu menguap menjadi tenaga yang menggerakkan. Artinya, jika di tengah-tengah masyarakat dilontarkan ideologi yang benar, maka akan menghangatkan masyarakat dan kemudian membara, yang akhirnya mampu mengubah, menggerakkan serta mendorong masyarakat. Ideologi itu ibarat api yang membakar dan cahaya yang menyinari. Masyarakat yang sedang berproses menuju suatu perubahan, maka agitasi opininya tengah memuncak [7].
Paham individualistis adalah wahana empuk umat dalam ber-sosmed di dunia maya. Eksistensi dan kejujuran mereka dalam akun-akun sosmed terungkap jelas. Lihat saja bagaimana diantara mereka sering update status, atau posting foto-foto. Itu membuktikan bahwa manusia punya naluri untuk ngeksis, yang dalam istilah bahasa Arab disebut ghorizah baqo’. Pengelolaan eksistensi diri inilah yang bagi penganut ideologi kapitalisme, cukup sampai pada status-status di sosmed saja. Tak heran, jika sering ditemukan status-status menggalau, lebay, alay, curcol, dsb.
Maka harus diingat, bahwa meski individu adalah bagian dari kelompok masyarakat, tapi ada hal lain yang membuat mereka pada suatu ketika perlu untuk bersatu. Faktor-faktor pemersatu itu meliputi pemikiran, perasaan dan peraturan hidup. Terlebih jika pemersatu itu adalah pemikiran Islam, perasaan Islam, dan peraturan hidup yang sesuai Islam. Inilah yang telah membelah lini masa dunia maya saat hari-H dan pasca aksi 411. Umat Islam kompak di hari-H, dan masih kompak setelahnya.
Tidak tahannya mereka dengan media-media mainstream yang tidak mencerdaskan, apalagi media yang sering menelikung opini Islam sekaligus memfitnahnya, membuat umat Islam yang berlandaskan tuntutan aqidahnya di aksi 411 berjaya mewartakan sendiri kejadian yang mereka alami melalui akun sosmednya. Provokasi di tempat aksi oleh sejumlah pihak tak mereka hiraukan. Hari itu, mereka tumplek-blek membela ayat Allah. Yang belum pernah ikut aksi, hari itu adalah pertama kali ia ikut aksi. Yang sudah biasa ikut aksi tapi tidak membela atau menyuarakan Islam, maka hari itu ia datang membela Islam. Kedamaian pun mengiringi aksi. Jujur, semua itu panggilan naluri. Naluri penghambaan kepada Allah yang dibalut naluri eksistensi. Mereka menunjukkan diri pada dunia melalui dunia maya, bahwa mereka ada di sana, menjadi pembela-Nya. Karena di dunia nyata, media kurang memberi tempat bagi ke-muslim-an mereka.
Penutup: Masa Depan Milik Islam
Karena itu, umat harus bangga beridentitas Islam. Sudah mengerucut masa untuk membongkar kepalsuan sistem demokrasi-kapitalisme-liberal yang ditanamkan penjajah serta membangun kesadaran umum umat dengan pemikiran Islam yang lurus. Dengan itu umat Islam diharapkan enggan menerima konsep jalan tengah dan tidak pula mencampuradukan antara keimanan dan kebatilan; juga enggan terjebak menerima konsep negara sipil dengan rujukan Islam, negara demokrasi atau konsep Barat lainnya [5].
Peran yang dijalankan umat Islam Indonesia sepanjang masa, bukan peran yang sekadar menjalankan kehidupan seperti “aliran air”, tanpa mengalami benturan demi meningkatkan derajat ketakwaannya [6]. Kehidupan mereka adalah untuk Islam. Atas izin Allah, seluruh manusia dan alam semesta akan merasakan kemuliaan, keagungan dan kerahmatan Islam [6]. Mari aktualisasikan republik netizen, agar suatu saat menjadi negara nyata dan memiliki peta. Yang tak lain negara itu adalah Khilafah Islamiyyah, negaranya umat Islam, negara tempat umat Islam terikat dalam satu simpul, yaitu keridhoan Allah. Karena sungguh, urusan umat ini tak akan kembali menjadi baik kecuali dengan pendirian negara Khilafah yang menerapkan hukum-hukum Islam di seluruh aspeknya [5].
Masa depan pasti milik agama yang agung ini. Hal ini tidak bisa dibantah. Sebab, ia merupakan janji Allah Swt. Akhir dari perhelatan antara para pejuang kebenaran dan para pejuang kebatilan merupakan perkara pasti. Allah Swt berfirman (yang artinya): “Allah telah menetapkan, “Aku dan Rasulku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (TQS. Al-Mujadilah [58]: 21) [5].
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb [].
Pustaka:
[7] Kitab Mafahim Hizbut Tahrir
No comments:
Post a Comment