Saturday, 12 November 2016

Ingatkah Kita Kepada Abu Jahal?

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Ingatkah kita, umat Islam abad 21 ini, kepada orang yang dikenal abadi sebagai Bapak Kebodohan? Ya, ialah Abu Jahal. Nama aslinya Amru bin Hisyam. Ia, seorang kafir Quraisy yang tak mau menerima kebenaran Islam. Ia malah sangat bangga disebut ‘Abu Jahal’ alias Bapak Kebodohan. Ia bodoh karena tak mau menerima kebenaran dari Allah Swt. Dan meski ia disebut ‘Abu Jahal’, ia tetaplah aktor intelektual yang berpengaruh di Makkah. Mari kita simak.

Kala itu, penentangan kafir Quraisy terhadap dakwah Islam merupakan hal yang alami. Hal ini karena Rasulullah ﷺ mengemban dakwah dan menampakkan kutlah (kelompok) dakwahnya secara terus-menerus. Di samping itu, esensi dakwah beliau memang mengandung perlawanan terhadap kafir Quraisy dan masyarakat Makkah. Karena dakwah Rasulullah ﷺ mengajak mengesakan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan penyembahan pada berhala, serta melepaskan diri dari semua sistem yang rusak di mana mereka hidup di dalamnya. Maka wajar, jika kemudian dakwah Rasul ﷺ berbenturan dengan kafir Quraisy secara menyeluruh.

Sekilas Rekam Jejak Abu Jahal

Nah, lalu di mana Abu Jahal saat itu? Ya, Abu Jahal adalah salah satu propagandis yang menyerang Rasul ﷺ. Ia-lah yang memimpin proses penyiksaan kepada Sumayyah ra. Ia pula, bersama Umayyah bin Khalaf (majikan Bilal), yang menyiksa Bilal bin Rabbah ra agar keimanannya berbalik menjadi kafir kembali. Namun nihil. Sumayyah ra akhirnya syahid, bahkan dikenal sebagai hingga menjadi syahidah pertama dalam Islam. Sementara Bilal ra, ia tetap teguh dengan keimanannya sambil terus menyebut “Ahad... Ahad...” selama disiksa, hingga Abu Bakar ra menebusnya dari Umayyah, dan siksaan pun berhenti.

Lalu, di mana lagi keberadaan Abu Jahal pada kesempatan yang lain? Kisah selanjutnya bermula tentang Thufail bin ‘Amru ad-Dausiy yang datang ke Makkah. Dia adalah seorang laki-laki mulia, ahli syair dan cerdas. Sementara itu kaum Quraisy meniupkan fitnah kepadanya agar berhati-hati pada Muhammad dan menyatakan bahwa ucapan Muhammad adalah sihir yang dapat memisahkan seseorang dari keluarganya. Mereka juga menakut-nakuti Thufail dan kaumnya sebagaimana yang dilakukan mereka terhadap orang-orang Makkah, dan menyarankan kepadanya bahwa yang terbaik adalah dia tidak berbicara dengan Muhammad dan tidak pula mendengarkannya.

Pada suatu hari, Thufail pergi ke Ka’bah dan Rasul ada di sana. Tanpa sengaja Thufail mendengar sebagian sabda Rasul dan dia mendapati bahwa itu merupakan ucapan yang baik. Lalu dia berucap dalam hatinya, “Demi kemuliaan ibuku, demi Allah, sesungguhnya aku seorang penyair yang cerdas, yang tidak satu pun hal yang terpuji maupun tercela yang tersembunyi dariku! Lantas apa yang mencegahku untuk mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki ini. Jika dia datang dengan membawa hal yang terpuji, pasti aku menerimanya, dan jika dia datang dengan membawa hal tercela, maka aku akan tinggalkan.” Kemudian dia mengikuti Rasul saw hingga ke rumahnya dan memaparkan urusannya dan apa yang berkecamuk dalam dirinya kepada Rasul saw. Beliau membacakan al-Quran kepadanya, maka dia masuk Islam dengan mengucapkan syahadat kemudian kembali kepada kaumnya untuk mengajak mereka memeluk Islam.

Dua puluh orang laki-laki Nasrani menemui Rasul saw di Makkah, saat telah sampai kepada mereka kabar tentang Rasul. Mereka pun duduk di hadapan beliau, bertanya kepada beliau, dan mendengarkan beliau. Kemudian mereka memenuhi ajakan beliau, beriman, dan membenarkan beliau. Hal itu menyebabkan kafir Quraisy marah dan mengejek mereka dengan kata-kata, “Celakalah kalian! Kalian diutus oleh kaum yang seagama dengan kalian, agar kembali dengan membawa berita dari lakilaki tersebut. Ternyata pertemuan kalian (dengan laki-laki itu) menghasilkan kegoncangan, sampai kalian sanggup meninggalkan agama kalian dan membenarkan segala hal yang diucapkan laki-laki itu”.

Namun, ucapan orang-orang kafir Quraisy ini tidak mampu memalingkan rombongan tersebut dari mengikuti Nabi. Juga tidak mampu memurtadkan mereka dari agama Islam. Bahkan, iman mereka kepada Allah semakin bertambah. Karena itu, pengaruh Nabi semakin kokoh, dan kerinduan manusia untuk mendengar al-Quran semakin bertambah.

Tak pelak, orang Quraisy yang paling memusuhi Islam pun mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, benarkah bahwa dia (Muhammad) menyeru kepada agama yang lurus dan segala apa yang dia janjikan dan ancamkan kepada mereka adalah benar?

Pertanyaan-pertanyaan mereka tersebut telah mendorong mereka untuk secara sembunyi-sembunyi mendengarkan al-Quran. Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal ‘Amru bin Hisyam dan al-Akhnas bin Syariq, keluar pada suatu malam untuk mendengarkan Muhammad saw yang sedang ada di rumahnya dan masing-masing mengambil tempat duduk untuk melakukan hal itu. Satu sama lain tidak mengetahui tempatnya masing-masing.

Saat itu Muhammad ﷺ sedang tahajjud sambil membaca al-Quran secara tartil. Mereka mendengarkan ayat-ayat Allah. Hati dan jiwa mereka terpesona. Mereka terus mendengarkan diam-diam, hingga datang waktu fajar, lalu mereka berpisah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun, di tengah jalan mereka saling berpapasan, kemudian saling mengejek satu sama lainnya. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Janganlah kalian mengulanginya lagi. Seandainya sebagian orang-orang bodoh dari kalian mengetahui apa yang kalian telah lakukan, niscaya hal itu akan melemahkan kedudukan kalian dan Muhammad pasti dapat mengalahkan kalian!”

Malam berikutnya, mereka masing-masing kembali dihinggapi perasaan seperti yang mereka rasakan kemarin, seolah-olah kedua kaki mereka menyeretnya tanpa mampu dicegah. Mereka ingin melakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya, yaitu mendengarkan Muhammad saw membaca Kitab Tuhannya. Ketika mereka akan pulang saat fajar, mereka kembali berpapasan dan saling mencela, namun hal tersebut tidak mencegah mereka untuk melakukannya lagi pada malam yang ketiga.

Saat mereka menyadari kelemahan mereka terhadap dakwah Muhammad ﷺ, maka mereka berjanji untuk tidak mengulangi lagi tindakan yang telah mereka lakukan tersebut. Mereka kubur keinginan untuk mendengarkan Muhammad ﷺ. Akan tetapi, semua yang telah mereka dengar pada tiga malam tersebut telah meninggalkan pengaruh dalam jiwa mereka, yang mendorong mereka untuk saling bertanya pendapat masing-masing tentang apa yang telah mereka dengar. Mereka semua tertimpa keraguan dalam dirinya dan khawatir dirinya menjadi lemah, padahal mereka adalah pemimpin kaumnya. Mereka takut hal tersebut akan melemahkan kaumnya dan beralih mengikuti Muhammad ﷺ.

Refleksi Abu Jahal Bagi Umat Islam Abad 21

Pelajaran pertama dari kisah Abu Jahal ini adalah, meski ia seorang kafir, bahkan termasuk yang paling besar kebenciannya kepada Islam, toh ia masih fair. Ia membenci Islam dalam kondisi yang sangat mungkin sebenarnya baginya untuk menghina Al-Quran. Tapi Abu Jahal tidak lakukan, ia tidak menghina Al-Quran.

Alasannya, tentu karena ia paham bahasa Arab, bahasa Al-Quran. Tentu ia mengerti betul apa isi ayat yang pernah ia dengar. Ia juga paham betul bahwa kalimat-kalimat Al-Quran bukanlah perkataan manusia, meski ia tak mau mengakuinya. Ini terbukti, Al-Quran mampu menembus sanubarinya. Ia lemah di hadapan ayat-ayat Allah. Ini juga bukti bahwa ia cerdas, ia intelek, orang pandai. Hanya karena kekhawatiran akan hilang jabatannya sebagai pemuka Quraisy jika ia mengikuti Rasul ﷺ, ia tak mau menerima kebenaran Al-Quran. 

Pelajaran kedua, terkait dengan kisah masuk Islam-nya Umar bin Khaththab ra. Perlu dicatat, sebelum Umar masuk Islam, Rasulullah ﷺ pernah berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam.” Khabab bin Al-Arat ra menyampaikan hadits tersebut kepada Umar ketika Umar tercerahkan oleh ayat-ayat Allah saat Khabab mengisi halqoh di rumah saudari Umar, Fathimah binti Khaththab ra, dimana Fathimah dan suaminya yang bernama Sa’id menjadi peserta halqoh tersebut. Setelah itu, Umar berniat masuk Islam. Kemudian Khabab berkata, “Wahai Umar, beliau berada di rumah Al-Arqam bin Abi Arqam, dan aku tidak melihat keadaanmu sekarang ini melainkan karena hasil doa Nabi Muhammad SAW 'Ya.. Allah.. muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua Umar, yaitu Umar bin Khaththab atau Amru bin Hisyam'.” (HR. Tirmidzi).

Umar kemudian berkata, “Apakah beliau telah berdoa untukku?” Khabab menjawab, “Ya. Maka pergilah dan temuilah beliau wahai Umar.” Ibnu Mas’ud ra berkata, “Posisi (Islam) menjadi kuat sejak Umar masuk Islam.”

Keislaman Umar ra, yang tiga hari sebelumnya merupakan hari keislaman Hamzah bin Abdul Muththallib ra, merupakan kejutan luar biasa bagi kaum kafir Quraisy. Hal ini jelas berimplikasi pada menguatnya dukungan terhadap kaum Muslim. Ditambah dengan turunnya wahyu Allah kepada Rasul ﷺ: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (TQS Al-Hijr [15]: 94-96).

Setelah turun ayat tersebut, Rasul ﷺ segera menyampaikan perintah Allah dan menampakkan keberadaan kelompok dakwahnya kepada seluruh masyarakat secara terang-terangan. Cara yang digunakan Rasul untuk menampakkan keberadaan kelompok dakwahnya adalah dengan keluar bersama-sama para sahabat dalam dua kelompok. Pemimpin kelompok pertama adalah Hamzah bin ‘Abd al-Muththallib ra dan untuk kelompok kedua adalah ‘Umar bin al-Khaththab ra. Rasul pergi bersama mereka ke Ka’bah dengan (barisan yang) rapi, yang sebelumnya tidak diketahui oleh bangsa Arab. Beliau melakukan thawaf di sekitar Ka’bah bersama-sama mereka.

Ini berarti Rasul ﷺ bersama para sahabatnya telah berpindah dari tahap dakwah secara sembunyi-sembunyi (daur al-istikhfa’) kepada tahap dakwah secara terang-terangan (daur al-i’lan). Dari tahap kontak dengan orang-orang yang simpati dan siap menerima dakwah, menuju tahap menyeru seluruh masyarakat.

Sejak saat itu mulai terjadi benturan antara keimanan dengan kekufuran di tengah-tengah masyarakat, dan terjadi gesekan antara pemikiran-pemikiran yang benar dengan yang rusak. Ini berarti dakwah mulai memasuki tahapan dakwah yang kedua, yaitu tahap interaksi dan perjuangan (marhalah al-tafa’ul wa al-kifah). Tak ayal, kaum kafir mulai memerangi dakwah dan menganiaya Rasul ﷺ serta para sahabatnya dengan segala cara. Periode ini (tafa’ul dan kifah) adalah periode yang dikenal paling menakutkan di antara seluruh tahapan dakwah.

Dari kedua pelajaran di atas, kita dapat mengetahui bahwa kekuatan yang dimiliki oleh Abu Jahal dan Umar adalah kekuatan pemikiran. Hal ini yang dibaca betul oleh Rasul ﷺ. Rasul sangat paham kedua orang tersebut adalah intelektual, atau dalam istilah kekinian bisa disebut “aktor politik”. Jika aktor politik ini memberikan kekuatannya untuk perjuangan Islam, maka ikhtiar menuju kemenangan Islam sebagaimana yang Allah janjikan itu akan niscaya. 

Ibrah Kasus Penghinaan Al-Quran

Dengan demikian, jika saat ini ada seorang pemimpin kafir yang menghina Al-Quran, yaitu Surat Al-Maidah ayat 51, kira-kira bagaimana posisinya jika dibandingkan dengan Abu Jahal? Setara atau lebih hina? Untuk pertanyaan retoris ini, silakan bisa dijawab sendiri-sendiri.

Meski sama-sama kafir, apa yang membedakan Abu Jahal dengan Si Penghina Al-Quran? Dari sisi aqidah, yaitu sama-sama tidak mau menerima cahaya Islam. Tapi dari sisi sistem kehidupan, ini sedikit berbeda, meski sama-sama bukan sistem kehidupan Islam. Coba kita sedikit telusuri.

Tanpa bermaksud membelanya, melainkan hanya menelusuri, Abu Jahal meski kafir, tapi profesionalitasnya masih ada. Ia tak pernah menghina balik konten dakwah Rasul. Karena Abu Jahal paham konten ayat-ayat yang ia dengar dari Rasul. Abu Jahal hanya tak mau mengikuti ayat-ayat Allah tersebut sebagai pedoman hidupnya. Akibatnya, ia masih teguh dengan kekafirannya.

Sementara Si Penghina Al-Quran saat ini, apa yang menyebabkan ia begitu mudahnya menghina? Meski ia sudah minta maaf kepada umat Islam atas perbuatannya tersebut. Ya, betul, karena ia berlindung pada ide kebebasan berbicara (berpendapat; freedom of opinion). Ide yang menjadi salah satu pilar penegak sistem demokrasi-kapitalisme-liberal. Sistem demokrasi itulah yang kemudian melindungi kebebasannya berbicara, hingga ia belum juga diproses hukum andai tak ada 2,5 juta umat Islam turun ke jalan pada hari 411 yang lalu.

Namun kebebasan berbicara dalam konteks sistem demokrasi bukanlah kebebasan dalam mengatakan yang haq, tetapi kebebasan dalam mengatakan hal-hal yang menentang berbagai kesucian yang ada di tengah-tengah umat. Tidak terkecuali kebebasan menghina Al-Quran. Dalam demokrasi, orang-orang yang berani menyerang Islam di bawah slogan kebebasan berpendapat, dianggap sebagai pakar opini. Bahkan mereka juga sering disebut sebagai para pahlawan, atau tokoh berpengaruh.

Lalu, sistem demokrasi ini juga sebagai inkubator untuk mencetak orang jahat. Lihat saja, semua orang yang menjadi pejabat di dalam sistem demokrasi pasti berujung pidana, alias menjadi penjahat. Entah itu yang terungkap atau pun undercover. Jika tidak sampai dipidana, minimal pasti terwarnai oleh ide dari sistem demokrasi yang bersangkutan. Apakah itu dari sisi kelurusan aqidah Islam sehingga menjadi dipertanyakan kelurusan aqidahnya, atau terpengaruh secara lifestyle permisif dan hedonistik, atau lain sebagainya.

Jadi, objek hukum dalam kasus penghinaan Al-Quran ini bukan pada kekafiran Si Penghina. Masalah kekafirannya dalam posisinya sebagai pejabat publik sudah clear dalam sejumlah aksi umat Islam bertajuk “Tolak Pemimpin Kafir”, berikut tagar #HaramPemimpinKafir. Yang tak lain adalah pengamalan Surat Al-Maidah ayat 51.

Namun kemudian Allah Swt berkehendak lain. Ia pun terjerembab dalam kasus penghinaan Al-Quran, melalui pencatutannya terhadap Surat Al-Maidah ayat 51 tersebut. Kisahnya berupa aktivitas ia menghina Al-Quran, bukan pada kekafirannya, atau pun ke-cina-annya. Jelas, yang memang harus diproses hukum adalah aktivitas “menghina”-nya itu. Karena Islam tidak mengajarkan untuk mempermasalahkan aqidah orang kafir, sebagaimana firman Allah: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS Al-Baqarah [2]: 256).

Perkara kalimat yang ia gunakan untuk menghina, maka hal ini sesungguhnya tidak perlu diperdebatkan. Karena sudah terlalu banyak pakar bahasa yang unjuk suara, menyatakan bahwa pernyataan Si Penghina dalam video yang bersangkutan memang dengan sangat jelas sudah menunjukkan penghinaan. Jadi tak perlu ada kambing hitam lagi. Proses hukum memang harus diberlakukan kepada Si Penghina.

Sekarang, apakah pertanyaan retoris di atas sudah terjawab oleh diri kita masing-masing?

Khatimah

Dengan demikian, hendaknya kaum muslimin makin kuat merenungkan sabda Rasul ﷺ berikut ini. Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Pada waktu tersebutsi penipu dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan penipu. Pengkhianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berkesempatan berbicara hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?” Nabi ﷺ menjawab, “Orang kerdil, hina dan tidak mengerti bagaimana mengurus orang banyak.” (HR. Ibnu Majah). 

Jika hadits ini diterapkan dalam konteks sekarang sangat pas, ketika kapitalisme, sekularisme dan demokrasi berkuasa di muka bumi. Tahun-tahun penuh kebohongan tersebut tampak dengan jelas dalam sistem demokrasi.

Hadits ini juga menjelaskan tentang kelompok orang yang tidak peduli terhadap urusan agama. Mereka mengibarkan bendera Jahiliyyah. Menyeru kepada ideologi dan isme sesat dan merusak, seperti kapitalisme, sosialisme, sekularisme, liberalisme, demokrasi.

Mereka berambisi menjadi penguasa, padahal mereka adalah orang bodoh, tidak bermutu, fasik dan hina. Mereka bukanlah orang yang mencari kebenaran, bukan pula orang yang menggengamnya dengan jujur, tetapi mereka adalah para pembohong yang pandai mengklaim. Meski mereka mengklaim membela dan menolong kebenaran, sesungguhnya mereka adalah dedengkot kekufuran. Mereka didukung orang-orang munafik, ekstrim, jahil tentang Islam, dan lalai.

Kadang mereka tampak berilmu dan benar, namun mereka menjual agama mereka untuk secuil dunia. Mereka menggunakan ilmunya untuk menjustifikasi kerusakan dan membenarkan sistem kufur. Mereka juga mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Akibatnya, halal dan haram, makruf dan munkar menjadi kabur di mata umat. Na’udzu billaahi min dzaalik.

Baiklah, kasus penghinaan Al-Quran oleh Ahok pun harus mempertaruhkan kredibilitas sistem demokrasi. Demokrasi mulai terserang konsep standar ganda yang ia canangkan sendiri. Kebebasan sebagai produk demokrasi kini bagai senjata makan tuan. Mana yang akan dimenangkan, antara ide kebebasan berpendapat atau hak asasi manusia untuk membela Islam sebagai agamanya. Kisah pun berlanjut.

Wallaahu a’lam bish showab [].

No comments:

Post a Comment