Thursday, 20 October 2016

Krisis Petani di Negeri Agraris (3)

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Serapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian

Ditinjau dari peranannya dalam sumbangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan serapan tenaga kerja, sumbangan PDRB sektor pertanian sekitar 15,04%, dengan menanggung lebih dari 36,42% tenaga kerja dapat dikatakan memiliki peranan yang tidak proporsional (BPS, Februari 2014). Rendahnya sumbangan PDRB ini antara lain dipengaruhi oleh rendahnya pendidikan tenaga kerja di sektor pertanian yang menyebabkan lambatnya adopsi berbagai teknologi tepat guna dan minimnya pemanfaatan peluang-peluang untuk meningkatkan produktivitas. Permasalahan utama ketenagakerjaan di sektor pertanian, yaitu keberadaan usia tenaga kerja produktif dan tingkat pendidikan [8].

Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010, sebanyak 11,5% tenaga kerja di sektor pertanian sebagian besar merupakan tenaga kerja yang berusia antara 40 – 44 tahun dan disusul sebanyak 11,0% tenaga kerja kelompok usia 44 - 45 tahun. Dilihat dari sisi pendidikan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS tahun 2012, tenaga kerja di sektor pertanian yang tidak sekolah sampai yang tamat sekolah dasar mencapai 74,5%, disusul oleh lulusan sekolah menengah pertama sebesar 15,7% dan lulusan sekolah menengah atas sebesar 9.15% [8].

Kondisi ini sangat timpang dengan ketenagakerjaan pada sektor industri pengolahan dan jasa. Pada sektor industri pengolahan sebagian besar tenaga kerja berlatar belakang pendidikan sekolah menengah atas dengan proporsi 14,8% dan pada berbagai sektor jasa sebagian besar tenaga kerja berlatar belakang pendidikan sekolah menengah atas dengan proporsi 33,4%. Ketimpangan ini yang menyebabkan perbedaan pendapatan rata-rata tenaga kerja di sektor pertanian dengan sektor industri pengolahan dan jasa [8].

Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa, di satu sisi memang diperlukan untuk mengurangi beban tenaga kerja di sektor pertanian. Namun di sisi lain, perpindahan tersebut idealnya proporsional dalam hal umur dan tingkat pendidikan sehingga tetap ada regenerasi yang berkelanjutan. Berdasarkan data BPS, rata-rata pertumbuhan tenaga kerja di sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 0.64% per tahun pada periode tahun 2005–2009, dan penurunan sebesar 1.49% per tahun antara tahun 2010 sampai tahun 2014. Penurunan pertumbuhan tenaga kerja terbesar justru pada kelompok umur pemuda, yaitu antara usia 15 sampai 29 tahun dengan rata-rata pengurangan 3.41% per tahun [8].

Penghasilan rata-rata tenaga kerja di sektor pertanian yang lebih rendah daripada sektor industri dan jasa menjadi faktor utama penyebab sektor pertanian kurang diminati. Generasi muda lebih tertarik pada sektor industri dan jasa yang pada umumnya lebih menjanjikan jenjang karir yang lebih pasti. Hal ini secara tidak langsung merupakan gambaran pemulihan sebagian petani yang tidak menghendaki generasi penerusnya untuk menjadi petani juga. Kondisi ini diperparah dengan besarnya konversi lahan pertanian yang dapat menyebabkan usaha pertanian tidak mencapai skala ekonomis. Selain itu banyak generasi muda dari rumah tangga petani yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan agribisnis, termasuk dari sisi kemampuan manajerial [8].

Untuk menumbuhkan minat generasi muda telah dilakukan berbagai upaya termasuk mengembangkan dan memperkenalkan teknologi yang memberikan kemudahan bagi masyarakat tani baik laki-laki maupun perempuan, khususnya golongan muda dalam melakukan produksi di tingkat on-farm dan off-farm. Selain itu, dibuka akses yang lebih besar pada pemuda, terutama kepada yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTA atau perguruan tinggi untuk dapat membuka usaha di bidang pertanian [8].

Dalam meningkatkan keterampilan petani, telah dikembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) sebagai lembaga milik petani yang secara langsung berperan aktif dalam pembangunan pertanian melalui pengembangan sumberdaya manusia pertanian dalam bentuk pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan. Lembaga pelatihan ini merupakan lembaga yang dimiliki dan dikelola oleh petani secara swadaya baik perorangan maupun kelompok. Selain itu, dikembangkan pula Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) yang merupakan kegiatan pendidikan moral dan sosial di dalam masyarakat, serta mempunyai kekuatan dan potensi untuk dikembangkan sebagai penggerak pembangunan pedesaan [8].

Malu Jadi Petani

Selama periode 2010-2014, sektor pertanian masih merupakan sektor dengan pangsa penyerapan tenaga kerja terbesar, walaupun ada kecenderungan menurun. Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian pada tahun 2010 sekitar 38,69 juta tenaga kerja atau sekitar 35,76% dari total penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2014 penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan menjadi 35,76 juta tenaga kerja atau 30,27%. Data penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tersebut hanya berasal dari kegiatan sektor pertanian primer, belum termasuk sektor sekunder dan tersier dari sistem dan usaha agribisnis. Bila tenaga kerja dihitung dengan yang terserap pada sektor sekunder dan tersiernya, maka kemampuan sektor pertanian tentu akan lebih besar [8].

Walaupun kemampuan sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja nasional sangat besar, namun di sisi lain justru menjadi beban bagi sektor pertanian dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya [8]. Anak petani enggan menjadi petani. Karena petani dinilai sebagai profesi yang kurang mensejahterakan. Ini salah kaprah. Diantara alasan para pemuda tidak pernah melirik profesi sebagai petani [6], adalah:

1. Malu

Inilah alasan utama betapa sulitnya menemukan petani muda di Indonesia. Banyak anak muda yang memiliki gengsi berlebihan, akibat konsep pikir akan kehidupan dan pekerjaan yang salah dalam diri mereka. Bagi mereka, pekerjaan seorang petani sangat melelahkan dan membosankan. Menurut mereka, yang dikatakan pekerjaan adalah kerja kantor. Karena itulah yang disebut keren, modern dan sukses. Memang tidak ada yang salah dengan bekerja di perkantoran ataupun di kebun. Tapi tanpa disadari, sesungguhnya cara pandang seperti ini lebih dikendalikan oleh sifat hedonis, bukan karena passion bekerja.

2. Takut Miskin

Sejak dini banyak anak-anak yang ditanamkan keyakinan bahwa menjadi petani tidak akan memberikan kehidupan yang layak. Para orangtua justru lebih mendukung anak-anak mereka untuk menjadi seorang dokter, pilot, atau pekerja kantoran. Ini diperparah dengan gambaran seorang petani yang hidupnya serba berkekurangan. Padahal tidak sedikit para petani yang karena ketekunannya, akhirnya menjadi orang yang berhasil.

Dalam hal ini kita bisa belajar dari kisah petani sukses bernama Sanusi asal desa Rancalabuh, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Ia pernah masuk dalam 5 besar petani tersukses versi Danamon Award 2014. Bukan tanpa alasan dia mendapat penghargaan itu. Dengan modal baju ganti dan semangat untuk memulai perjalanannya sebagai seorang petani, Sanusi berhasil menyulap lahan tidur sebesar 30 hektar menjadi lahan produktif yang menghasilkan padi, timun, kacang panjang dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya. Dengan sistem pertanian modern dan ketekunannya, lahan tersebut mampu menghasilkan panen padi 6-7 ton per hektar serta mampu meraup keuntungan 40-70 juta per bulan.

3. Berpikir bahwa Petani adalah Orang Bodoh

Ada begitu banyak anak muda yang berpikir bahwa petani adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, tidak lulus seleksi kerja di perkantoran, dan tergolong orang yang bodoh. Padahal kenyataan di dalam dunia pertanian yang sesungguhnya adalah seorang petani tidak hanya bekerja menggunakan otot tetapi juga ilmu.

Sebut saja Surono Danu seorang petani sekaligus penemu benih lokal Sentani-1 yang sudah tidak asing di telinga para petani lokal bahkan luar negeri. Bibit lokal hasil temuannya ini mampu menghasilkan jumlah butiran beras yang jauh lebih banyak dari benih padi lainnya. Dan juga penemuannya itu memiliki kemampuan untuk menutup luka pada permukaan batang padi hanya dalam waktu kurang dari 24 jam akibat gigitan hama.

Tidak sampai disitu, beliau sudah berulang-ulang mendapatkan tawaran dari negara-negara asing seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Jepang sampai China, hanya untuk mengembangkan produksi padi di negara mereka. Tetapi semua tawaran tersebut ditolaknya, karena beliau berkata bahwa penemuan bibitnya tersebut harus untuk memberi makan masyarakat Indonesia. Karena dedikasi hidupnya ini, akhirnya menjadikannya idola banyak masyarakat dan tak sedikit yang memintanya untuk menjadi Menteri Pertanian RI.

Sarjana Pertanian, Bangga Menjadi Petani 

Harus diakui, terdapat sebuah adagium tentang lulusan kampus pertanian, yang sebenarnya membuat miris. Adagium tersebut menyatakan bahwa lulusan kampus pertanian masa kini dapat masuk ke seluruh sektor lapangan kerja, kecuali pertanian itu sendiri. Belum lagi paradigma lain, bahwa masuk jurusan pertanian karena kesasar. Jadi, apakah mahasiswa/lulusan kampus pertanian merasa tertampar? Ya silakan bagi yang merasa tertampar saja. 

Perlu disadari sepenuhnya, bahwa tingginya jumlah penduduk yang sebagian besar berada di pedesaan dan memiliki budaya kerja keras merupakan potensi tenaga kerja pertanian. Sampai saat ini, lebih dari 35 juta tenaga kerja nasional atau 26,14 juta rumah tangga masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Besarnya jumlah tenaga kerja tersebut belum tersebar secara proporsional sesuai dengan sebaran luas potensi lahan serta belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk pengembangan pertanian yang berdaya saing [8].

Apabila keberadaan penduduk yang besar di suatu wilayah dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya untuk dapat bekerja dan berusaha di sektor produksi, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, maka dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi aneka komoditas pertanian bagi pemenuhan kebutuhan pasar nasional dan dunia. Peningkatan kapasitas penduduk dalam hal pengetahuan dan keterampilan pertanian dapat juga dilakukan melalui penempatan tenaga kerja pertanian terlatih di daerah yang masih kurang penduduknya dan penyediaan fasilitasi pertanian dalam bentuk faktor produksi, bimbingan teknologi serta pemberian jaminan pasar yang baik [8].

Sub-sektor tanaman pangan merupakan lapangan usaha yang menyerap bagian terbesar tenaga kerja dan sangat dominan dalam mewarnai struktur ketenagakerjaan sektor pertanian maupun nasional. Hampir seluruh penduduk di perdesaan bekerja di subsektor tanaman pangan. Selain semakin meningkatnya kebutuhan terhadap produk pangan, juga posisi tanaman pangan saat ini masih dipandang sebagai komoditas strategis, politis, ekonomis sehingga dipandang perlu upaya peningkatan produktivitas tenaga kerjanya. Disamping itu kegiatan-kegiatan yang berorientasi pengembangan kapasitas SDM dan kelembagaan terutama petani terus akan menjadi prioritas, mengingat masih rendahnya kualitas SDM pertanian [8].

Secara kuantitatif tenaga kerja untuk sub-sektor tanaman pangan tersedia di pedesaan, namun ada kecenderungan terus menurun dengan indikasi semakin berkurangnya minat generasi muda di pedesaan untuk bekerja di sub-sektor pertanian. Jumlah rumah tangga yang berusaha di bidang pertanian selama satu dekade terakhir (2003-2013) diindikasikan menurun sebanyak 5,096 juta RT dan sekitar 4,527 juta RT (89%) berada di Jawa. Sedangkan dari sisi kualitas Sumberdaya Manusia, tenaga kerja ini masih sangat kurang. Hal ini menjadi perhatian pemerintah untuk dapat mengupayakan secara berkelanjutan penyediaan SDM Pertanian yang berkualitas [8].

Merujuk situs resmi Institut Pertanian Bogor (IPB), yang tak lain adalah kampus pertanian terbesar di Asia Tenggara, Fakultas Pertanian sebagai nadi utama ilmu pertanian di IPB memiliki motto mewujudkan pembangunan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan daya saing bangsa. Karena itu, Fakultas Pertanian berkomitmen tinggi terhadap mutu yang secara efisien dan akuntabel menghasilkan lulusan yang kompeten dan IPTEKS yang relevan untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan IPTEKS [9].

Nah, jadi jelas, lulusan kampus pertanian sebenarnya sangat potensial untuk diberdayakan menjadi tulang punggung pelaku sektor pertanian. Hal ini juga termasuk sebagai jawaban tentang kebutuhan SDM sektor pertanian yang kompeten dan berkualitas. Jadi, apakah sarjana pertanian termasuk SDM yang siap dan bangga menjadi petani tanpa bergelut dengan gengsi? Malah seharusnya mereka menjadi yang terdepan.
-bersambung-

No comments:

Post a Comment